SUKA-DUKA WAITER




Jangan pernah membayangkan bekerja sebagai waiter di atas kapal pesiar itu selalu menyenangkan. Adakalanya banyak yang kurang menyenangkan. Tapi enjoy ajalah!

<< September 2015 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, August 18, 2004
welcome On board

SS Rotterdam
26 September 1993

Begitu masuk pintu kapal aku dan rombongan disambut Pak Alex, salah satu head steward yang juga berasal dari Indonesia, menuju ruang tunggu di dek B. Kamipun diantar ke kabin masing-masing setelah mendapat life jacket. Dengan seksama aku perhatikan setiap lorong dan dek yang aku lalui, termasuk deretan kabin para awak kapal. Kabin tempat aku bakal habiskan hari-hari di atas kapal ini tampak rapi, meskipun dalam ruangan ukuran 3 x 4 meter itu terisi 4 orang dengan model tempat tidur susun. Di dalam kabin tersedia meja belajar, cermin, lemari pakaian, dan wastafel.
Selanjutnya aku dan rombongan berkumpul di taylor section untuk mengambil seragam dan sepatu. Petugas di taylor section yang melayani kami adalah orang Philippina. Selain orang Indonesia, pekerja kelas dua lainnya memang berasal dari Philippina. Pekerja kelas satu tentu saja berasal dari gabungan dua nama perusahaan ini, yakni Amerika dan Belanda. Orang Amerika menangani bidang entertainment seperti tour, casino, dan theatre. Orang Belanda sebagian besar menangani bidang perkapalan dan manajemen hotel, mulai dari Captain, Chief of Engineer, Purser, Hotel Manager, Chef D' Cuisine, dan Maitre D' Hotel. (Hanya sebagian kecil orang Indonesia yang bisa menduduki posisi
Maitre D' Hotel).
Kembali ke soal seragam, aku mendapat dua stel seragam untuk service breakfast dan lunch serta dua stel untuk dinner. Seragam terdiri dari baju lengan panjang warna putih, celana panjang hitam, rompi serta jas lengkap warna biru tua dengan warna merah pada kerah. Aku juga mendapat sepatu warna hitam, seperti sepatu polisi. Aku segera membayangkan, seberapa gagah aku pada saat mengenakan seragam itu.
Setelah segala urusan seragam selesai, Pak Alex dengan sigap segera mengantar kami semua berkeliling kapal sebagai bagian orientasi tempat kerja. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah dinning room. Ruangan ini sungguh luas. Dengan karpet kembang-kembang warna merah dan kombinasi meja dan kursi makan warna biru keunguan, tampak asri dan berwibawa. Di atas langit-langit dinning room, tampak lampu kristal tergantung memantulkan warna kuning keemasan.
Meja kursi di dinning room ini terbagi dalam tiga kelompok besar, yakni di samping lambung kiri, tengah dan kanan. Meja kursi itu berkelompok membentuk formasi bervariasi antara 2 hingga 8 kursi setiap mejanya. Bentuk mejanya juga bervariasi, antara lain berupa segi empat, segi panjang dan bundar. Segi empat memuat dua kursi berhadap-hadapan, persegi panjang memuat empat hingga enam kursi, serta meja bundar memuat delapan kursi secara melingkar. Masing-masing kelompok meja dilengkapi dengan meja kerja waiter yang biasa disebut commote. Lengkap dengan segala peralatannya.
Setelah puas mengamati ruang kerja dinning room, kami diajak ke kitchen dengan menuruni tangga eskalator. Terlihat sebagian besar peralatan yang ada di kitchen terbuat dari bahan stainless steel. Terkesan kekar namun bersih dan
hygiene.
Di sini terdapat banyak lemari besar, juga dari bahan stainless steel, tempat menyimpan berbagai makanan dingin dan panas (cold & hot storage). Di sini disimpan berbagai bahan mulai dari kelompok vegetable, fruit, meat, pastry, hingga milk dan
juice.
Agak terpisah dengan ruangan kitchen, tapi masih satu lantai, adalah ruangan dishwashing. Bentuk mesin cuci otomatis ini melingkar-lingkar dengan beberapa perhentian dan ban berjalan untuk menggerakkan piring , gelas, dan peralatan lain yang akan dicuci.
Secara khusus, Pak Alex juga menjelaskan bahwa ruangan kitchen dan dishwashing ini harus selalu bersih dan steril dari berbagai kuman. Untuk itu, secara berkala harus dibersihkan. Bahkan, secara mendadak ada inspeksi dari USPH (United States of Public Health) untuk mengecek tingkat kebersihan kapal. Jika terdapat kesemberonoan dalam menjaga kebersihan, maka sangsinya sangatlah berat. Kapal tidak boleh melanjutkan pelayarannya.
Ukuran kebersihan yang paling kecil dapat diukur dari tingkat kedisiplinan setiap petugas kitchen untuk selalu mengenakan sarung tangan plastik (gloves) pada saat bekerja dan menyentuh makanan.
Bagi mereka kebersihan kitchen sangatlah penting, karena dari sinilah sumber supply makanan bagi seluruh penumpang kapal. Sekali tercemar, seluruh penumpang pasti bakal menanggung resiko, taruhlah misalnya keracunan yang berujung pada kematian!


Posted at 11:23 pm by mashar67
Make a comment  

Monday, August 30, 2004
Musang pemburu daging segar

Haris "Eri Pare" Juhaeri

 

Binatang berkaki empat yang sifatnya nocturnal (aktif malam hari)  dan berbau pandan dikategorikan sebagai mahluk omnivora, meski orang lebih banyak menganggapnya pemakan daging. Nama lainnya adalah luwak atau luwek. Habitatnya melingkupi Asia Tenggara dan populasinya makin menyusut karena banyak diburu.

 

Ada persepsi salah pada masyarakat kita tentang ciptaan Tuhan yang satu ini. Masyarakat menganggapnya sebagai hama karena sering dituduh memakan ayam-ayam mereka, sampai ada peribahasa musang berbulu ayam. Padahal di beberapa daerah, orang banyak yang menyukai biji kopi yang keluar sebagai tinja sang musang. Bahkan si musang ini turut membantu penghijauan sebab mereka suka sekali makan buah atep atau buah nira. Ketika mereka melepaskan hajat besarnya berarti sekaligus menebarkan benih buah atep atau buah nira tadi.

 

Tapi jangan salah, kita juga bisa menemukan musang jenis lain di kapal pesiar. Mahluk yang ini sama-sama omnivora namun aktif  baik nocturnal maupun diurnal. Di kapal orang juga lebih banyak menganggap mahluk ini sebagai "pemakan daging". Musang-musang mempunyai kecenderungan aktif secara nocturnal saat mencari mangsanya karena bila siang hari takut tercium "anjing penjaga" yang dimajikani kapten. Padahal malam haripun "anjing penjaga" itu tetap aktif, bahkan lebih akif dibanding siang hari. Namun si musang suka banget maen petak umpet di kegelapan malam saat berburunya.

 

Bedanya musang kapal adalah banyak yang peminum kopi bukan penghasil biji kopi. Juga mereka tidak suka buah atep kecuali kalau sudah dijadikan kolang-kaling. Di kapal mereka lebih suka buah dada! Ketika mereka sebagai musang bisa melepaskan "hajat besarnya", mereka tidak ikut menebarkan benihnya sebab mereka banyak yang menggunakan kondom! Hmmmm….mulai sedikit mengertikan anda sekarang?

 

Beda lainnya adalah masa kawin musang kapal biasanya sepanjang tahun namun mereka akan lebih sering kawin pada musim yang disebut Holiday Cruise. Musim ini menjelang Natal hingga tahun baru. Alasannya di musim ini banyak sekali penumpang keluarga yang membawa anak-anak mereka, baik yang masih teenager maupun dewasa muda. Pokoknya ranum-ranum dan bikin ngiler para musang. Tapi kalau ketahuan enyak babenya kita ngemusangin anak-anak mereka, tiket pulang kampung sudah ada di depan mata! Yah namanya juga musang, tetap saja kadang mereka nekad walau berpotensi dikandangin jeruji besi di negeri Mr. Bush. Tapi nggak usah khawatir, jeruji besinya bukan yang di Guantanamo kecuali anda ngemusangin Mrs Bush kali…..

 

Namun ada juga jenis musang kapal yang bermain aman ketika berburu "daging". Mereka hanya mencari mangsa dewasa sehingga terhindar dari minor abused, paling sialnya mereka dapat tuduhan sexual harassement kalau mangsanya mengadu ke kapten atau hotel manager. Konsekuensinya sih sama saja, dapat tiket pulang. Beda lainnya adalah musang kapal selain yang hetero, ada juga yang mempunyai kecenderungan homo. Jenis kelamin sama jantan hanya incerannya ada yang berbuah dada ada pula yang berbuah  zakar. Ada pula musang yang berkecenderungan oedipus complex, jadi mereka mencari mangsa-mangsa yang sudah peot. Mungkin musang jenis ini suka daging alot. Ada juga musang yang suka mangsa gemuk, makin gemuk makin bikin pusing jenis musang ini. Hebat bener deh musang kapal!

 

Jangan salah, kadang ada "daging" yang sengaja minta dimusangin. Biasanya kalau dinner menjelang usai mereka bertanya," Can I see You after dinner?" atau  "Do you have time for me after dinner?". Nah lo, siapa tahan?! Eit….jangan berpersepsi semua yang di kapal adalah musang sebab mereka hanya golongan minoritas saja. Populasi mereka tidak banyak namun enak untuk dijadikan topik, maka terlihat menonjol. Maklum obrolan seputar syahwat kan asyik sekali dijadikan bahan gossip. Ada sensasi seksual yang penuh dengan fantasi, maka bener juga kata si mbah psikoanalisa, Sigmund Freud. Manusia hannyalah sebatas mahluk seksual, jadi hal yang berbau esek-esek memang mengasyikan. Apalagi di kapal pesiar, jauh dari tetangga, saudara, pacar, isteri, hansip bahkan Tuhan! Kadang kita lupa bahwa malaikat mengawasi kita sampai kontrak  hidup kita berakhir dan manusia suka bandel padahal Tuhan Maha Tahu.


Posted at 09:17 pm by mashar67
Make a comment  

Wednesday, September 22, 2004
Crew Party

oleh

Eri Pare

 

Dalam budaya kita dikenal sebuah ritual yang dikenal dengan istilah selametan, yaitu sebuah acara syukuran atas sebuah kegiatan atau peristiwa. Ritual itu bisa berupa penutupan panitia tujuhbelasan, kenaikan kelas, lahiran anak, panen, kawinan, pokoknya banyak sekali acara dalam konteks budaya kita yang ditutup acara selametan ini.

 

Selametan ternyata bukan monopoli bangsa timur seperti kita namun sifatnya sangat universal. Dunia barat juga mengenal acara sejenis, thanksgiving contohnya. Jadi sebuah kewajaran bila di kapal pesiar pun, kami mengenal acara selametan yang disebut crew party. Dalam setahun kami banyak mengadakan crew party, mulai dari independence day-nya orang Amerika, orang Filipina, orang dewek, ulang tahun ratu londo, ulang tahun ratunya David Beckham, taon baruan, goodbye alaska welcome caribbea (dan sebaliknya), atau goodbye Europe welcome caribbea (juga sebaliknya), lulus hasil uji inspeksi departemen kesehatan Amerika (USPH) dan banyak selametan lainnya. Pokoknya party, party and party!

 

Acara ini biasanya diadakan di crew messroom, yaitu tempat para awak makan sama kongkow-kongkow. Kadang mooring deck depan bisa dijadikan tempat alternatif. Tempat ini sebenarnya adalah tempat digulungnya tambang kapal yang segede belalai gajah dan rante jangkar kapal. Acara dimulai dari jam sebelas malem sampe jam dua pagi, peduli amat kita besok paginya mesti kerja early. Yang penting pesta!

 

Makanan dan minuman disajikan di meja. Makanan yang disajikan biasanya ada nasi goreng, mie goreng, chicken wing, kalby beef, panggang babi, roti Filipina, kerupuk udang dan banyak panganan lainnya yang bikin pipi tembem. Minuman yang digelontorin di pesta nggak jauh dari softdrink, bir sama liqour (biasanya vodka, whiskey, gin dan rum), cukup buat kepala kliyengan sampai pagi deh!

 

Jam sebelas teng, musik pun dipasang kenceng, jedang jedung! Bikin pantat sama kepala gatel pengen diajak goyang. Selametan pun dimulai! Cuap-cuap panitia acara nggak begitu diperhatiin, abis perhatian orang lebih terpusat kepada isi perut sama minumannya serta cewek inceran yang mudah-mudahan bisa diajak one night stand. Paling ketika kapten kapal mengucapkan sepatah dua patah katanya, baru kita agak ngiyem dikit. Nanti dianggap nggak tahu diri. Jaim dikit ngapa!

 

Para awak pun mulai berkumpul, baik pria, wanita dan "nggak pria nggak wanita". Semua tumplek blek di acara makan, minum sama goyang. Dandanan yang dipakai sebenarnya nggak diatur. Jadi lebih kearah kasual tapi banyak juga yang masih berseragam terutama anak diningroom yang memang panjang jam kerjanya. Ada juga sekelompok yang berpakaian bak pragawati yang kesambet, heboh abis! Bikin nyokap bokapnya ngelus dada kalo tahu kelakuan anaknya ini. Kelompok ini biasa dikenal dengan crew yang nggak jelas orientasi seksualnya, yaitu kelompok yang nggak pria nggak juga wanita atau lebih dikenal dengan nama binan / bencong. Hebatnya lagi kebanyakan dari mereka adalah orang Indonesia!

 

Karakter tiap bangsa jelas sekali terlihat. Kelompok crew bule sama Filipina lebih banyak berkumpul di counter minuman, hanya sedikit orang kita gabung disini. Kelompok Indonesia lebih sering menjadi penonton di kondangan ini meski ada juga yang ikut larut. Orang kita lebih banyak duduk dengan manis sambil denger musik dan menikmati hidangan. Kelompok Filipina selain dekat dengan counter minuman juga dekat dengan tempat makanan, makanya nggak heran tubuh mereka lebih sentosa dibanding orang kita.                            

 

Harus diakui bahwa bangsa kita kadang dianggap pemalu di tengah kelompok internasional. Sebenarnya hal ini lebih kepada budaya kita yang membuat kita kurang bisa asertive dalam berkomunikasi antar budaya. Menurut teori komunikasi, dalam konteks timur khususnya kita dikategorikan kedalam high level context, yang berarti dalam berkomunikasi, bangsa kita lebih menuntut lawan bicara kita lebih mengerti hal-hal yang nonverbal. Sedangkan bangsa bule lebih mengarah ke low level context, yang berarti lebih banyak menuntut komunikasi verbal dengan lawan bicaranya.

 

Malam makin larut, irama musik pun kadang kenceng kadang slow. Kepala yang hadir pun makin terasa berat malah deket -deket ke doyong. Lucunya kalo pas musik slow, crew berjenis kelamin betina jadi rebutan untuk diajak dance, maklum perbandingannya nggak seimbang. Kalo beruntung dapet, lumayanlah bisa meluk-meluk karena dempetan badan. Setelah itu tergantung kelihayan anda dalam bertutur kata sehingga si cewek bule atau Filipina hooh saja ketika pesta bubar diajak ke kamar kita atau bahkan mereka yang ngajak ke kamarnya.

 

Jam dua teng, selametan pun usai yang ditandai dengan dihentikannya musik dan dinyalakannya lampu . Yang tersisa tinggal sampah bertebaran di mana-mana. Dengan langkah gontai para awak pun kembali ke kabinnya masing-masing, kecuali mereka yang beruntung dapet pasangan. Satu pesta telah berlalu dan besok pagi kami harus mulai dengan  rutinitas kembali. Sedikit tidur lumayan lah untuk mengurangi kepala yang berat karena pengaruh alkohol yang dikonsumsi. Tenang saja, masih banyak pesta-pesta lainnya menunggu di hari-hari mendatang. Bila malam tadi nggak beruntung dapet pasangan, bukan tidak mungkin giliran anda di pesta selanjutnya.


Posted at 07:17 pm by mashar67
Comment (1)  

Sunday, October 10, 2004
Kisah waiter (1 dari 3)

Pengalaman pribadi mantan Dining Room steward Holland America Line
Oleh
Eri Pare
               
Menyenangkan, itulah gambaran awal ketika berniat  untuk mencoba bekerja di kapal pesiar. Keliling dunia gratis, mengunjungi pusat-pusat obyek wisata dunia, dibayar tinggi untuk ukuran Indonesia, mengenal bangsa lain dengan karakter yang berbeda.
 
Ketika diterima bersama sekitar 40 orang lainnya, kami diharuskan untuk mengikuti pelatihan di BPLP Bali kemudian disambung di Lenteng Agung. Untuk beberapa diantara kami saat itu bete juga harus menjalani pelatihan ini karena banyak diantara kami adalah lulusan D3 perhotelan sehingga materi yang harus kami pelajari adalah sebatas pengulangan materi di bangku kuliah. Tapi prosedur itu memang harus dijalani untuk mencapai keseragaman skill yang harus kami kuasai sesuai standar yang Holland America Line minta.
 
Suka duka menjalani pelatihan itu akan banyak menyita halaman tulisan ini bila saya ceritakan lengkap. Namun ada pengalaman yang tidak bakal saya lupakan. Saya pernah menjatuhkan patung gede di BPLP Bali karena tertabrak saat mengejar waktu dalam praktek F&B service. Padahal itu patung 3 kali ukuran badan saya yang kurus. Pihak akademik BPLP Bali meminta saya untuk mengganti patung itu. Bayangkan saja kalau saja yang mesti membelinya sendiri di kawasan Batu Bulan dan menggendong itu patung yang segede anak gajah ke kampus BPLP di Nusa Dua. Berkesan sekali. Di Lenteng Agung lain lagi ceritanya. Kita harus belajar dari pagi hingga malam disela waktu istirahat makan siang dan makan malam. Membosankan dan stressful, hingga saya sempat terkena migraine. Tapi karena motivasi untuk kerja di kapal begitu menggebu, tidak terasa waktupun berlalu.
 
Selepas Lenteng Agung adalah masa harap-harap cemas. Menunggu adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Satu demi satu diantar kami mendapatkan panggilan kerja, hingga akhirnya giliran saya pun datang juga. Kami semua dikirim ke ss Rotterdam sebab kapal ini menjadi kapal latih bagi rookie seperti kami.
 
Kerja keras menjadi bagian keseharian hidup kami. Minggu-minggu pertama menjadi neraka, para senior menjadikan kami sebagi bahan perpeloncoan. Tampang-tampang bingung dan panik sangat jelas di wajah-wajah kami. Kami juga belum melakukan mind set adjustment yang sangat Indonesia dengan lingkungan yang jauh berbeda. Mandi keringat selalu membanjiri tubuh kami. Sangat melelahkan.
 
Jam kerja dining room steward disesuaikan dengan jam makan. Kami harus kerja sejak breakfast, lunch, dinner hingga late snack. Waktu antara jam makan merupakan waktu istirahat kami. Meski kadang diantar waktu itu kami juga harus bekerja, contohnya afternoon tea setelah kerja lunch. Kerja di afternoon tea sangat menyebalkan sebab kami kerja dari lunch disambung afternoon tea kemudian langsung prepare untuk kerja dinner.. I hate it!
 
Menjelang kerja dinner adalah keengganan kami. Kerja dinner sangat menguras energi, apalagi bagi mereka yang kerja di afternoon tea benar-benar sudah  loyo kelelahan Kenapa, sebab kami akan menghadapi dua periode makan malam dari jam 5.30 sampai 10.30 malam. Makanya setelah dinner wajah-wajah penat tergambar di setiap dining room steward terutama anak-anak baru seperti kami. Selepas late snack yang merupakan makan malam bagi kami di mess room, dengan lunglai kami menuju kabin untuk merebahkan diri supaya besok pagi kami siap untuk berpeluh kembali. Kami bekerja rata-rata selama 11 jam sehari, 7 hari per minggu selama kontrak kecuali bila sakit dan dokter merekomendasikannya untuk istrirahat.
 
(Bersambung)

Posted at 06:42 pm by mashar67
Make a comment  

Monday, October 25, 2004
Kisah waiter (edisi 2 dari 3 tulisan)

Oleh Eri "Pare"

(Lanjutan edisi sebelumnya. Edisi 2 dari 3 tulisan)
 
Seiring dengan waktu, adaptasi bisa berjalan. culture shock tetap sering terjadi sebagai hasil interaksi budaya yang berbeda, baik ketika kerja maupun saat kami di darat ketika off. Contoh yang paling simpel adalah kebiasan kita menyebrang jalan. Frame orang Indonesia ketika akan menyebrang adalah menunggu kendaraan lewat baru kita menyebrang sedangkan di AS, Kanada dan negara-negara Eropa adalah sebaliknya. Maka yang ada adalah saling tunggu, saya menunggu mobil lewat sedangkan yang di mobil menunggu saya menyebrang. Lucunya ketika pulang saya juga terpaksa melakukan adjusment lagi dalam soal menyebrang, sebab saya tidak mau mati konyol ditabrak mobil atau motor yang pengemudinya edan-edanan.
 
Komunikasi antar budaya yang intens menghasilkan sebuah kebudayaan baru yang kami serap meski tanpa meninggalkan budaya lama. Adalah sebuah kewajaran bila salah pengertian antara manusia dengan budaya yang berbeda, namun seiring waktu kami juga mulai paham aturan, norma dan budaya bangsa lain. Hasil positifnya adalah makin percaya diri bila berhadapan dengan bangsa asing. Sebuah pelajaran yang sangat berharga yang tidak bisa anda dapatkan di bangku sekolah sebab harus dilalui lewat pengalaman empiris, kecuali anda bersekolah di sekolah internasional.
 
Jalan-jalan di tempat wisata yang menjadi obsesi saat masih di rumah akhirnya terlaksana juga. Tersesat dalam gang di Venesia, kebingungan melihat semua toko tutup untuk siesta di Spanyol dan Itali, makan buah seperti mangga namun rasa kecapi di pasar Guatemala, makan kelapa muda sambil cuci mata di pantai yang bersebrangan dengan univesitas di Punta Renas, Guatemala, muntah-muntah ketika dijebak teman masuk peep show di Seattle (tempat itu ternyata paling jorok sebab menjadi tempat untuk bermasturbasi pengunjung saat di dalam). Makan tiram mentah di Mazatlan, Meksiko sambil ditontonin orang setempat karena makan cabe rawit tapi nggak kepedesan, sampai yang punya restoran ngacungin 2 jempolnya sambil berkata, "Senor, you're very strong!". Makan tiram di Spanyol atau Nice, Prancis adalah alternatif lainnya saat kangen mahluk laut itu meski harganya jauh lebih mahal dibanding Meksiko. Makan ikan bakar di Acapulco juga lumayan enak, apalagi disambi makan taco sama asinan jalapenonya. Snorkeling di Grand Cayman juga cukup menyenangkan, apalagi di Stingray City dimana kita bisa berenang di antara ratusan ikan pari. Ditolak masuk sriptease bar di Hawaii karena dianggap masih dibawah umur. Pokoknya happy always!
 
Namun dibalik itu, ada konsekuensi yang harus diterima oleh mereka yang kerja di tempat ini. Waktu kami untuk keluarga menjadi tersita oleh kerja. Dari satu tahun paling kita hanya punya waktu 2 -3 bulan di rumah. Sekarang bila diantara kami yang sudah 10 tahun (120 bulan) bekerja, berarti hanya sekitar 20 bulan saja untuk keluarga. Menyedihkan! Bayangkan bila anda mempunyai anak 10 tahun, anda hanya bercengkrama dengannya selama 2 tahunan. Sisanya kita hanya berkomunikasi lewat media seperti telpon, surat dan e-mail. Harga yang cukup mahal yang mesti dibayar bila kita bekerja ditempat itu. Semua itu mungkin tidak begitu berasa bagi mereka yang lajang tapi waktu berjalan, dan suatu saat siapapun yang lajang layaknya akan memutuskan untuk menikah dan berkeluarga. Lain cerita bila memang tidak mempunyai rencana untuk itu dan bisa cukup puas mendapatkan wanita luar sebagai partner hidup atau bahkan bila anda mempunyai orientasi suka sesama jenis. Perayaan seperti ramadan, lebaran, natalan, nyepi, galungan dan perayan-perayaan yang menjadi momen keluarga berkumpul menjadi sebuah kemewahan. Kami jarang beruntung bisa merayakannya di rumah bersama keluarga.
 
Anda masih bisa berkarir juga di kapal pesiar. Di Holland America Line, banyak orang kita sudah mencapai level manager baik itu di dining room, housekeeping, accounting dan gudang. Belum lagi level asst. manager dan supervisor yang memang lebih banyak lagi. Anda berani tampil, berpenampilan lumayan, apalagi kalau tidak malu menjadi penjilat atau bahkan mau mengorbankan diri untuk Hotel Manager yang memang banyak yang berorientasi suka sesama jenis, maka karir anda bisa melesat bagai meteor. Meski tentu saja lebih banyak diantara kami yang lebih suka mencapainya dengan cara berjuang keras lewat prestasi kerja.
 
Gaya hidup dan pola konsumsi kami juga berubah drastis dari sebelum dan setelah bekerja di kapal pesiar. Mengacu ke hierachy of needs-nya Maslow, kami sudah tidak lagi pada tataran basic need. Kami masih muda usia dengan uang dollar di dompet, maka kami menjadi lebih konsumtif. Semua yang dibeli adalah barang-barang branded. dari barang untuk ujung rambut sampai ujung kaki. Kami lebih menjadi budak fashion, kamera kami harus mahal meski kami bukan pencinta fotografi, jam kami harus keren seperti jam-jam yang diiklankan di majalah GQ, parfum kami juga harus wangi berkelas sehingga semua sadar akan kehadiran kami yang semerbak, sound system kami harus menggelegar peduli amat tetangga jantungan dan bisa bikin genteng di rumah turun. Pokoknya banyak diantara kami menjadi impulsif buyer. Ketika pulang kami harus beli mobil atau rumah bagus meski hanya digunakan untuk sebentar. Pacar atau isteri kami juga harus diatas rata-rata untuk ukuran Indonesia sebab standar yang digunakan adalah kecantikan yang biasa kami lihat di luar sana meski ironis dalam hitungan bulan terpaksa kami tinggalkan demi panggilan kerja.
 
(Bersambung)

Posted at 01:09 am by mashar67
Make a comment  

Tuesday, November 02, 2004
Kisah waiter (bagian 3 tamat)

Oleh:
ERI "PARE"

Dunia kapal pesiar mempunyai norma dan aturan sendiri meski belum bisa dikatakan budaya sendiri. Bukan norma dan aturan Indonesia, Filipina, Inggris, Belanda, Kanada, ataupun Amerika. Tapi norma dan aturan kapal pesiar. Disana kami aman, tidak kena macet, tidak  diintimidasi ketika di jalan, tidak takut ditodong atau dicopet, tidak bayar makan, tidak bayar listrik meski soundsystem kami makan listriknya gede banget. Yang penting kami bekerja dan bekerja. Kami pun bisa selalu berpesta di koridor dan kabin kami, kalau kuat setiap malam. Cukup sediakan beberapa boks bir, beberapa botol wine dan liquor plus musik yang menghentak, maka crew pria dan wanita akan berkumpul, selanjutnya terserah anda. Selama tidak ada yang complaint dan kapten membolehkannya. Mengacu ke ilmu sosiologi, saya mendefinisikannya sebagai crowd, yaitu sekelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama dan diatur oleh sebuah aturan sendiri dimana pemegang kekuasaan tertinggi ada di tangan kapten kapal. Saat pulang adalah merupakan kegembiraan kami, namun jauh dilubuk hati kami sebenarnya kebingungan. Kami punya dunia sendiri, dunia kapal pesiar bukan dunia darat!
 
Kini sekitar 6000 orang Indonesia tercatat sebagai crew perusahaan kapal pesiar Holland America Line. Ribuan orang Indonesia lainnya bekerja di perusahaan-perusahaan kapal pesiar lain seperti Star Cruise, Norwegiean Cruise Line, Royal Caribbean Cruise Line, Carnival Cruise Line, Costa Cruise Line, dan banyak liner lainnya. Mayoritas ada di bagian hotel dan sebagian kecilnya ada di bagian engine atau deck, yakni pelaut. Meski di paspor kami semua sama sebagai seaman, kami yang di bagian hotel lebih suka diberi predikat hotelier tanpa niat untuk merendahkan profesi pelaut.
 
Predikat pelaut hingga saat ini berkonotasi kurang baik. Ada anggapan pelaut itu identik akrab dengan wanita di setiap pelabuhannya, suka mabuk-mabukan, suka judi, pokoknya jelek hingga para orang tua akan merasa gerah bila anak gadisnya didekati mahluk satu ini. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Masih ada diantara kami yang konsisten melakukan prinsip agama. Meninggalkan keluarga untuk sekian bulan adalah berat namun akan lebih berat pula bila kita ternyata larut kedalam kehidupan hura-hura.
 
Banyak diantara kami yang sudah senior dalam arti usia, namun karena kebutuhan yang mendesak serta ketidakpastian ekonomi di dalam negeri, mereka terus bertahan untuk bekerja hingga pensiun. Jauh di lubuk hati mereka ada keinginan untuk berhenti dan mencoba hidup di negeri sendiri, entah usaha apa. Namun banyak dari mereka terbentur dinding tebal untuk bisa hidup di kampung halaman. Buka usaha hanya sebatas coba-coba seringkali gagal dan akhirnya balik ke kapal. Kesalahan terbesar kami ketika mencoba hidup di darat adalah minimnya informasi peluang usaha dan kebiasaan lama di kapal yang membuat kami manja. Dalam membentuk usaha, jelas perlu kiat dan strategi yang terencana dan itu kekalahan kami ketika mencobanya. Kami bagai rusa masuk kampung meski kami punya modal namun tidak punya banyak informasi. Sekali masuk dunia kapal pesiar, kami seakan masuk kedalam sebuah lingkaran setan.
 
Berkaca pada senior kami, saya akhirnya memutuskan untuk segera mengakhiri kehidupan saya di dunia kapal pesiar. Berat memang. Jujur saja kerja di kapal pesiar itu enak sehingga bisa membuat kita terlena. Semua kebutuhan kami terjamin sebab perusahaan memanjakan kami. Gaji kami memang tidak besar namun kami menerima tips dari tamu yang jauh lebih besar dari gaji. Dari uang tips yang jumlahnya lumayan dibanding kerja di Jakarta akhirnya kami bisa menabung. Namun uang bukanlah segalanya sebab sebagian besar dari kami mengorbankan sesuatu yang jauh lebih bernilai; orang tua, isteri, anak, pacar, teman dekat, saudara, semuanya hanya sempat kami temui dalam waktu yang singkat. Harga yang cukup mahal yang mesti kami bayar ketika bekerja di kapal pesiar.          
 
Dengan berat hati dan harus siap dengan segala resiko yang saya hadapi bila keluar dari lingkungan itu, akhirnya saya bisa menutup lembaran hidup saya di kapal pesiar. Saya kembali ke kampus dan menyelesaikan kuliah di bidang yang jauh berbeda dengan dunia perhotelan. Kini semua tinggal kenangan. Besar keinginan saya untuk kembali namun bukan sebagai crew. Someday…..I hope so.
 
(Tamat)

Posted at 05:25 pm by mashar67
Comments (2)  

Sunday, December 12, 2004
Ramadhan di atas kapal pesiar

By Eri "Pare"

Bulan Ramadhan selalu disambut dengan berbagai reaksi oleh mereka yang bekerja di kapal pesiar. Crew Indonesia yang didominasi oleh muslim pun menyambutnya meski kagak seragam. Ada yang senang,  ada yang merasa berat mengingat harus berpuasa di tempat yang mengharuskan kita kerja kera. Ada yang cuek bebek gak peduli dengan momen bulan seribu bulan ini. Tapi sebagian besar menyambutnya dengan suka cita, marhaban ya Ramadhan!

 

Panitia Ramadhan pun dibentuk, ada seksi penyedia sahur, seksi tarawih, seksi hotbah, seksi konsumsi setelah taraweh, seksi pengajian atawa istilah lainnya tadarusan. Heboh, seperti DKM mesjid jamie satu desa yang pindah ke atas kapal.

 

Malam taraweh pertama hampir semua crew Indonesia yang beragama muslim tumplek blek di mushola yang gedenya gak jauh beda dengan wc umum di Blok M, Jakarta, sampe koridor pun penuh. Yang kasihan mereka yang non muslim pas mau lewat koridor itu kagak bisa, kayak mereka yang mau belanja di Cempaka Mas kemaren kena blok FBR (Forum Betawi Rempug -red).

 

Banyak yang ujug-ujug lebih santri dari santri Gontor, beratribut baju takwa, sorban yang dipasang di bahu, kopiah haji, sambil nenteng sajadah. Padahal kalo nggak salah, biasanya kagak begitu, boro-boro sholat….. Sejuk sekali kalo ngeliat para santri dadakan ini. Alhamdulillah…..

 

Mushola jadi gerah kayak dalam bis kota, AC sama kipas angin pun gak ngaruh meski niupin anginnya ke badan-badan jamaah taraweh. Maka keringet pun bercucuran apalagi bagi mereka yang beratribut lengkap bak Zainudin MZ. Tapi semangat Ramadhan tidak menggoyahkan mereka gara-gara kegerahan. Taraweh pun dilangsungkan.

 

Sahur lain lagi ceritanya. Kaset rohani digeber kenceng banget, gak peduli jam segitu crew lain lagi lelap. Yang nyetel dia pikir di kampungnya kali. Mungkin pikirnya semua crew ikutan sahur di bulan Ramadahan. Makanya kalo tuh bagian nyetel kaset lagi meleng, volumenya diturunin supaya gak bikin resah orang lain. Niatnya ibadah koq bikin jengkel orang, kasihan kan mereka yang bukan muslim.

 

Selama puasa lain lagi ceritannya. Sebagai waiter paling sebel kalo ditempatin kerja siang di Lido Restaurant. Di situ kan selain restoran ada kolam renangnya. Mata kita gak bisa ikut puasa, abis banyak tubuh-tubuh yang sentosa lagi berenang sama berjemur. Bisikan hati bilang itu godaan, jangan ditengok dah! Emang, siapa yang nengok? Kita kan kagak perlu nengok, repot! Abis tempat itu penuh banget sama mereka yang kayak anjing laut berjemur, jadi yah gimana…tatap aja kali yah….!

 

Buka puasa yang paling nggak enak terutama lagi-lagi anak dining room, karena lagi sibuk-sibuknya melayani makan malam. Abis kalo anak cabin steward jam 8 aja udah pada leha-leha di mess room. Lebih sengsara lagi kalo Ramadhan pas di musim panas sebab kita bukanya sangat telat, sekitar jam 9 sampai jam 10 malem! Selagi ngambil makanan tamu di dapur, paling banter kita hanya sempet minum atau paling banter makan fruit cocktail sama danish pastry sisa breakfast yang udah keras. Kalo nggak ati-ati makannya, bisa bikin keselek di tenggorokan. Makan buka puasanya ditunda dulu, paling cepet jam setengah sebelas malem setelah beres ngelayanin tamu dinner. Jontor abis dah! Namanya juga ujian……

 

Minggu pertama crew messroom penuh sama yang sahur begitu juga mushola sama yang taraweh. Minggu kedua yang saur dan taraweh mulai berkurang, minggu ketiga makin berkurang, bahkan minggu keeempat tinggal segelintir orang. Tapi kalo malem takbiran, mushola pun rame lagi. Maka takbiran menggema malam itu hingga terdengar di koridor-koridor. Tapi gak lama, paling jam 12 malem takbiran pun selesai, abis besoknya kan mesti gawe, emang takbiran di kampung.

 

Besoknya pun sholat Ied. Biasanya di dek belakang, ngadep laut. Ritual pun dilakukan sebagaimana mestinya dan diusahakan sesingkat-singkatnya, sebab dikejar waktu. Lepas itu salam-salaman terus buru-buru deh balik ke kabin buat ganti baju. Masak kerja pake sarungan sama baju takwa, ribet kan?!

 

Nggak ada deh yang namanya nuansa lebaran. Garing abis! Yang ada nuansa rutin, kerja, kerja dan kerja….! Saat sesama muslim lainnya di dunia saat itu merayakan lebaran bersama keluarga, nyekar, keliling nyambangin famili sama anak isteri atau pacar, pake baju baru pula, nyundut petasan renteng yang digantung di pohon dukuh sebelah rumah, makan ketupat sama sambel ati yang dikasih pete, makan uli sama tape ketan, blom lagi makan dodol Condet. Eh kita malah gedebak-gedebuk ngelayanin tamu makan, bersihin kamar tamu yang kayak kapal pecah. Bersihin dek, bersihin karpet kapal, ngecet bodi kapal, nongkrongin mesin kapal, pokoknya kagak enak deh! Ironis banget, padahal yang di rumah lagi heboh berlebaran dari duit yang kami kirim. Eh yang ngirimnya malah hanya bisa nyengir kuda…

 

Adalah sebuah kemewahan bagi kami yang bekerja di tempat ini, bila bisa berlebaran di rumah. Hal ini pula yang bikin agen pengirim tenaga kerja sebel tapi mahfum. Sebab crew yang lagi berlibur pas saat puasa, biasanya akan memperpanjang liburannya hingga lebaran. Meski dipanggil berkali-kali tetep aja si crew akan jual mahal, wong lebaran di rumah tuh nggak bisa dihargain sama dollar, bener deh!


Posted at 11:56 pm by mashar67
Make a comment  

Tuesday, December 28, 2004
Grooming Inspection!

By: Eri Pare

 

Di masa perbudakan baheula, budak-budak perkebunan secara berkala akan disuruh berbaris menghadap tuan tanah sama mandor-mandornya. Mereka akan diperiksa kesehatan serta kebersihannya. Mulai dari ujung kaki sampe ujung rambut semua kagak ada yang lewat.

 

Si tuan tanah duduk dengan pongahnya dikelilingi para mandor. Mirip Little Missy film dulu di jaman tvri masih sorangan, kagak banyak saingan kayak sekarang. Si budak satu demi satu ngadep ke juragannya. Dia disuruh ngunjukin badannya panuan atau kagak, kukunya panjang atau dipotong rapih, rambutnya bersih atau ketombean, giginya juga kagak kelewat sampe disuruh ngasin kayak kambing, jadi ketahuan jigongan atawa kagak. Pokoknya seluruh badan budak yang hanya bercawat diperiksa kagak ada yang kelewat.

 

Kondisi kayak gitu sebenernya juga ada di negeri kita dulu jaman penjajahan VOC baik itu di perkebunan kopi, karet atau teh. Kakek moyang kita pasti ada yang ngalamin dibegituin sama para meneer londo. "Kalo kowe inlandeer jang djadie koelie kontrak, kowe moestie ikoet diperiksa sama kita poenja mandor, mengertie?!". Gitu kali si meneer ngomong sama kakek moyang kita.

 

Itu jaman dulu ketika perbudakan masih legal dilakukan para penjajah di seluruh kawasan jajahannya, kira-kira hingga akhir abad sembilan belasan. Pola perbudakan sangat jelas, bila ada bangsa yang superior maka bangsa inferior akan menjadi budaknya. Kata bahasa kerennya homo homoni lupus, manusia menjadi serigala atas manusia lainnya.

 

Kalo ada yang nanya masih adakah praktek perbudakan jaman kiwari? Jawabannya jelas, ada! Ribuan bahkan ratusan ribu atau bukan hal yang mustahil jutaan orang kita jadi budak di negeri orang. Yang paling kentara adalah di negeri-negeri arab sono, dimana banyak sekali para tkw kita yang dikaryakan jadi babu di kawasan kaya minyak itu. Perbudakan terselubung yang kagak begitu kentara juga banyak. Maaf saja kalo saya kategorikan kerja di kapal pesiar pun masuk disini. Hanya saja lebih dimanusiawikan, sehingga sering kita kagak 'ngeuh.

 

Ada satu kegiatan yang paling bikin saya merasa masuk ke dalam kategori kaum paria ini, yaitu saat grooming inspections. Kegiatan yang dilakukan oleh pihak manajemen kapal pesiar dimana kita akan diperiksa kerapihan ama kebersihan mulai dari sepatu, potongan rambut, potongan kuku, bau badan, hingga baju seragam.

 

Pemeriksaan ini biasa dilakukan menjelang kerja dinner. Semalam sebelumnya pengumuman dipasang di papan pengumuman deket koridor kabin. Maka sibuklah kita nyemir sepatu sampe mengkilap bahkan kasarnya kita aja bisa ngaca, nyetrika baju sama celana seragam sampe licin banget, terus kancing-kancingnya dipilih yang masih kinclong sebab banyak yang burem kegesek  baki  saat ngangkat makanan dari dapur.

 

Hari H pun tiba, kita para dining room steward dan asistennya disuruh lapor kerja dinner di dining room lebih dini setengah jam. Artinya kita mesti motong jam tidur siang kita sekitar setengah jam. Pegel kan?

 

Semua disuruh antri berbaris untuk diperiksa satu demi satu. Hotel manager, F&B manager, maite'd dan asssistan maitre'd serta para headwaiter pokoknya komplit kayak timbel di Saung Kuring, duduk di depan siap dengan tatapannya yang kadang digalak-galakin. Mirip tuan ama centengnya deh!

 

Satu demi satu kita, kayak para inlander maju ke depan, nyodorin tangan buat diperiksa kuku, ngeliatin baju seragam bahwa bersih, trus liatin sepatu yang udeh kinclong abis sambil ngeliatin kaos kaki kita yang sewarna ama celana, trus muterin badan deh kayak pragawan di panggung tujuhbelasan supaya mereka tahu rambut belakang kita nggak nyentuh krah baju.

 

Jadi, apa bedanya kami sama mereka yang di perkebunan kopi, teh dan karet jaman VOC dulu? Hah! Saya sadar saat itu saya merasa nggak ada bedanya sama mereka. Konsep inspeksi dengan nuansa perbudakan masih eksis hanya dengan pola yang lebih manusiawi. Kesetaraan  dalam beberapa hal ternyata bias di kapal pesiar. Padahal penanganan kerapihan dan kebersihan tidak perlu dilakukan seperti itu. Crew kapal pesiar bisa dikategorikan golongan terdidik juga, mereka bisa berpikir dengan nalar yang bagus.

 

Harga diri dan martabat sebagai satu anak bangsa seakan dilecehkan. Sebuah aturan yang membuat saya merasa menjadi individu yang hina saat pemeriksaan itu dilakukan. Tidak adakah cara yang lebih elegan dalam melaksanakan pemeriksaan ini? Dan kenapa aturan ini tidak diberlakukan kepada semua karyawan baik itu berkulit bule, item ama berkelir? Entahlah…., paling mereka dengan pongahnya menjawab," Hey! Take it or leave it! If you wanna stay, follow the rule!"  Ehm nasib….., kalo udah digituin sih kepengen banget jadi si Pitung. Ciaatttttt…..!


Posted at 07:19 pm by mashar67
Comments (2)  

Monday, January 10, 2005
Recruitment process for HAL (part 1)

Author: Edy Tantra

(Kisah dalam bahasa Inggris ini ditulis oleh Edi Tantra yang baru saja melewati proses rekruitmen di HAL dan sebentar lagi menjalani masa training, sebelum bekerja di kapal pesiar di bawah manajemen HAL. Kisahnya cukup detail dan panjang, maka terpaksa kami bagi 3 bagian. Tulisan tetap kami sampaikan dalam bahasa Inggris. Jika anda tidak mampu memahami konteks ceritanya,  berarti anda belum cukup nyali buat gabung dengan kepal pesiar. Salam redaksi).

 

I'll start this information as what we all do normally when applying job, we submit our application.

You can click here to find out address of SBI which is HAL's representative in Indonesia. After that, what we can do is just pray, pray again, or try to apply for another job in case we are not accepted. We just can't do anything due to this step, as they will call us when our application is accepted.

 

The first interview held at SBI's office which I've mentioned earlier. That morning, I prepared for everything that I needed in order to get the best results for the interview. When I reached SBI, there are some  other applicants waiting in the waiting room, all of them came for many different purposes. Some of them are to be there for a visa or for briefing. But some of them are the same with me, as a new applicant.

 

When I was called for an  interview, I was a bit nervous, as it was my first job interview and I am so called freezing after so long in the fully air-conditioned waiting room. Well, another room, this time, it's smaller, with 2 chairs separated by a desk, a tough guy sitting behind the desk, with papers and pen in front of him, and again… the cool air condition. When I saying cool, it means very cold, as I get used to air-condition but not this one, it's just too cool for average people.

 

I entered the room and said "Selamat pagi pagi, Pak." But replied me with English, "Good morning Edy, please have a sit." Well, when he talked to me in English, I was shocked at first, but after that I get used to it. I just needed to get off  those "Indonesian-english way of thinking"  as I never speak English in Indonesia before.

 

Next, he said "Ok, before we start our interview session, I will firstly ask you a question. Does all the information stated in your application to SBI are all the truth and no lies?" And of course I answered "Yes." Then after that, he  explained that the interview session actually is just a starting session of the next steps, so it's not the real interview from HAL, it's actually a qualifying interview from SBI them self before we sent to have an interview or test from HAL.

 

In this starting session, the tough guy asked a few questions to test my English. A few that I remembered are:

"Why do you want to work for HAL?"

"What do you know about HAL?"

"Where did you find out about HAL?"

"How do  you satisfy the management of HAL from the position you are applying?"

Then he asked me a little bit of skilled questions. At first I was applying as Room Service Attendant, but when they called me, I was offered in Housekeeping only. Well, I decided to grab the chance to work in a cruise and think about what I am working later, that's why I attended the interview.

Some of the question regarding to Housekeeping position is how to set up a room (bed making) in theory. I explained to him, and after that, he open his files which contain some pictures. He showed me a picture, and asks me to describe the picture in details, short as long as meaningful. It was just a newspaper cut I guess. So worry nothing about this step.

 

And he told us that this step is end. But we have to attend another test at Cikarang. He gave me a reference paper to be given to the lady at front office. I can't remember her name, if I am not mistaken, she was Miss Christine.


Posted at 05:16 pm by mashar67
Make a comment  

Monday, January 24, 2005
Recruitment process for HAL (Part 2)

PART 2

This part, I will explain the next step of interview, as I was  asked to go to Cikarang for further test.

 

It was too early as I reached MS Nieuw (The building name), so I waited in the car and just look around the building where I will spend my 10 weeks training if I completed my tests and get a result of pass of course. The building was divided by 2 parts which is a dormitory on the left, and classrooms, offices, and trainee canteen on the right. It  was  8 A.M as I entered the gate and asked the security where the training room is. They took my ID card and give me a visitor card. I walked in the pathway, and entered a big hall, it was the training place. I saw a lot of trainees there. Some of them were using black and white with bow tie, some of them not using bow ties. At last I found out that housekeeping trainees are not using bow tie, the one using bow tie are those trainees from Dining room or RSA (Room Service Attendant).

 

Walking through the hall, I saw a lot of class rooms with a sign on the door. There was a room named  "Marcopolo".  Some of the classes was designed to fit with actual working condition,  for example a class with bath room and bed room for housekeeping.  Some were designed to be look like a dining room to support the training session for dining room trainee and RSA trainee. All the rooms were equipped with nice lighting, good environment, and air conditioning as well as of course, desks and chairs. Most of trainee have short haircut, and I guess it's a must to have neat and short hair.

 

The formal test began as a person coming and entered the room. He welcame us and asked us to follow him to the room which at last I found out that it was the HR office. He explained what kind of tests we will face that day, and he gave us forms to fill in. It's actually a form which will be filled with our scored marks through out the tests and interview, and 2 pages of  format for  CV/resume.

 

The first test was only a conversation skill in English. This time the interviewer was a lady. She asked few questions about myself, for example where I am living, how old I am, what my parents do for living, how many brothers/sisters I have,  how do  I found out about HAL, why do I want to work in HAL, what do I know about HAL, etc. There were still a lot of questions she asked me, but one thing for sure to tell readers, don't wait until she asked you, try to expand your own story by yourself. When she asked about your family, tell her all, not only your parents or how many sisters/ brothers you have, but try to tell them more, such as where are your sisters/ brothers, how old are them, what do they do, and you are the oldest, youngest, or the 2nd, 3rd, etc. That's one of my tips for you readers.

 

Having finished from the first tests, the lady asked me, why did I choose to work as Housekeeping as my English is just too good to be Housekeeper. She suggested me to be a RSA, and I told her directly that I actually applied to be RSA but SBI put me under HK as perhaps they do not want to take a risk if let's say my English was terrible. After that she asked me to follow her to HR office and requested to upgrade my position to be RSA, the HR officer agreed with condition if I pass the RSA test.

 

The next test was the professional skill test. There was a list of question with a check mark for correct answers. I should have the minimum score to pass this test. The questions that I still remembered were:

- What are the methods of cooking of eggs? (Poached, boiled, scrambled, etc…)

- If  a guest order a steak, what do we ask? (How do do you like it to be done, sir?)

- What are the criteria of a steak? (Very well done, well done, etc…)

- Name the type of cereals. (Cornflakes, coco puff, etc…)

- Name the type of breakfast. (American, Continental)

- What is American breakfast, example?

- What is Continental breakfast, example?

- Name the type of soups, example?

After that he gave me pictures and asked me to name it, few are poached egg, boiled egg, scrambled egg, etc. I have to differentiate between tenderloin and sirloin from the pictures as well.

Well, I passed the test even though it's not a good result as I have no full time experience as I am a fresh graduate in Hotel management, not operation.

 

The next step was the last test for that day, it was a computerized English test. This test can be very difficult  to those who are not good in written or grammar. Before I started my test, I have to pay a sum of money about Rp.45.000 if I am not mistaken for the software copyright. There were about 90's questions that needed to answer in 1 hour. The question consists of listening (using headphone), which is odd, complete the sentence, option question, true or false question. As for readers information, the question is a bit hard if you are only a passive English speaker. One of the example of which is odd that I remembered and troubled me much was:

Which is odd?

  1. Uncle
  2. Son
  3. Nephew
  4. Niece

You might choose son is it? Well, it was wrong, the answer was Niece, because they were all male except niece. Hope this example won't scare you much as now you already knew the right answer. It was D. Well, you should have  a minimum score to pass the test, and it depends on your position. As RSA, the minimum score is higher than HK.


Posted at 11:08 pm by mashar67
Comment (1)  

Next Page